PENERJEMAHAN DAN BUDAYA

Nuning Yudhi Prasetyani(1*),

(1) 
(*) Corresponding Author
Nuning Yudhi Prasetyani

Abstract


Nuning Yudhi Prasetyani

Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang

ningdibyo@gmail.com

 

Abstrak

Penerjemahan tidak dapat dipisahkan dari budaya itu sendiri karena kedua hal ini memiliki hubungan yang erat. Bahasa akan membentuk budaya dan sebaliknya. Bahasa memiliki makna yang diwadahi oleh budaya sebagai tempat berkembangnya sebuah bahasa. Hal ini tidak dipungkiri bahwa penerjemah sering menemukan kesulitan dalam hal kesetaraan kata dalam menerjemahkan budaya. Jadi, seorang penerjemah harus menguasai kompetensi linguistik, kompetensi kultural, dan kompetensi strategis untuk menghindari terjemahan yang timpang (tidak sesuai dengan budaya bahasa target).

kata kunci: terjemahan, budaya, kompetensi linguistik

 


Abstract

Translation cannot be separated from the culture as it has a tight relationship. A language will form the culture and vice versa. It has the meaning that is wrapped by the culture as its place. It is not denied that a translator often finds some difficulties in finding the right equivalence in translating culture. So, a translator must master linguistic, cultural, strategic competencies.

key words: translation, culture, linguistic competence


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26594/diglossia.v1i1.88

Article metrics

Abstract Abstract views : 306times
PDF views : 822 times




Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan  is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Indexed by:

  Flag Counter